Kebudayaan Tegal
1.Ragam kebudayaan orang Tegal
Kebudayaan lokal Tegal adalah menginduk ke budaya induknya yaitu budaya/ suku jawa hanya saja ada sedikit perbedaan yang timbul dan menimbulkan kekhasan budaya Tegal sendiri.Baikk dilihat dari dialek bahasa,tutur kata,kesenian,filosofi,dan pandangan hidup serta aspek lainnya.Ada sedikit gambaran budaya Tegalan dilihat dari sisi filosofi sifat watak orang Tegal,kebiasaan dan adat istiadat,kesenian serta bahasa jawa berdialek Tegal yang khas.
-Filosofi dan watak orang Tegal
Menurut Prof.Dr.Suparman Sumamiharja,filosofi dan watak orang Tegal terkandung dalam masing-masing huruf sehingga membentuk kata “T.E.G.A.L”.Berikut uraiannya:
T:Tatag/Teteg yang berarti penuh percaya diri,tidak mengenal takut atau pakewuh.Mereka (orang Tegal)tidak pernah merasa rendah diri bagaimanapun penampilannya.
E:Eling yang artinya ingat atau sadar,orang Tegal memiliki sifat tinggi dalam setiap tingkah lakunya.Mereka mengetahui dalam posisi mana dan mereka akan melakukan tindakan yang sesuai watak (wiraswastawan).
G:Gesit menunjukan sifat orang Tegal yang gesit dalam memandang lingkungan.Barang barang rongsokan yang tidak berguna bagi mereka akan dipandang sebagai barang berpotensi bisnis,sehingga di sepanjang jalan raya Tegal-Slawi berserakan onggokan barang barang bekas yang diperjual belikan (contoh:pasar loak jalan jati,pasar ireng pasar loak banjaran,dll).
A:Alim berarti saat menjalankan agama. Ada asosiasi bahwa orang tegal itu identik dengan santri.
L:Lugas yang bisa diartikan orang Tegal itu bisa tampil apa adanya,tanpa banyak formalitas.
2.Adat Kebiasaan Pemberian Nama Orang Tegal
Adat istiadat yang akhirnya melahirkan kebiasaan yang mengakar yang terkesan primitif.Hal ini pula yang terjadi pada lingkungan masyarakat Tegal.Bagi suku jawa umumnya nama memiliki makna yang penting dan dianggap dapat mempengaruhi pada orang yang menyandang nama tersebut ( kartohadikusumo,sutardjo,Buku Desa).
3.Bahasa Tegal
Bahasa Tegal adalah alat tutur dan sarana komunikasi yang berakar dari masyarakat kabupaten/kota Tegal serta sebagian masyarakat kab.Brebes dan Pemalang.Bahasa ini hidup dan berkembang selama berabad-abad sebagai turunan dari bahasa Jawa Kuno.Wilayah penggunaan bahasa Tegal karena posisinya yang jauh dari pusat budaya kraton nyaris tidak tersentuh dengan apa yang disebut “budaya adiluhung” Masyarakat tegal memiliki bahsa dan budaya sendiri yang lebih demokratis.Bahasa Tegal tidak mengenal strata (tingkatan)ketiga yang di sebut “kromo inggil”,tetapi hanya mengenal “ngoko”dan”bebasa”.Bahasa Tegal menjadi bahasa yang terbuka dan mudah menerima serapan bahasa asing.Bahasa Tegal juga tidak pernah di ajarkan di sekolah,sehingga bahasa ini berkembang tanpa memiliki ejaan yang baku.
Strata bahasa yang diikuti dengan diskriminasi strata sosial,yakni adanya masyarakat golongan “rendah”menyebabkan Bahas Tegal mengidap beban budaya dengan stigmatisasi sebagai bahasa yang kasar,tidak punya ungguh-ungguh dan tatakrama .Padahal setiap etnis dan bahasa ibu memiliki karakter masing-masing ,bagaimana bahas tersebut memiliki ungkapan-ungkapan honorifik,sebagai penghormatan kepada lawan bicara.
Bukan hanya tradisinya yang unik,Kota Tegal juga mempunyai makanan yang khas,Berikut rinciannya.

- Tahu aci merupakan makanan khas kota Tegal,selain rasanya yang nikmat,cara membuatnya juga cukup mudah kita hanya perlu menyiapkan tahu,aci,air serta bumbu-bumbu lain.Tahu aci lebih nikmat jika dimakan pada saat panas panas.Makanan ini sering dijumpai disepanjang jalan Tegal-Slawi ,para pedagang tahu aci menjual tahunya sekitar jam 16.00 hingga sampai jam 21.00.
- Sega ponggol merupakan salah satu makanan ciri khas Tegal.Sega ponggol biasanya untuk sarapan,lauknya yang sederhana yaitu dengan hanya berisi orek tempe basah dan biasanya ditambahkan dengan mie goreng sayuran,tak lupa pula ditambahkan dengan langgi (campuran dari parutan kelapa,irisan kacang panjang,dan sambal).Sega ponggol biasanya dibungkus menggunakan daun piasang namun tak jarang pula ada yang dibungkus menggunakan kertas minyak.Harganya yang ekonomis membuat banyak masyarakat Tegal banyak yang menyukainnya.
Oleh:Mutiya Winakhyu (VIIID)

